4 September 2013

PACAR UNTUK SAHABAT


Penulis : Mario Laoh

Sore itu, Riski berkunjung ke rumah sahabatnya Toni yang tak jauh dari tempat tinggalnya. Tok tok tok, “siapa ?” suara halus dari dalam rumah menyapa Riski, ketika pintu dibuka ternyata Dewi kakak perempuan Toni yang baru pulang dari bandung. “Maaf kak, Toninya ada?” tanya Riski, “oh, ada di dalam,.. ayo silahkan masuk!” Jawab Dewi mengajak Riski masuk kedalam. Dengan sungkan Riski pun masuk kedalam rumah Toni dan duduk di kursih ruang tamu, “Toni,..! ada temanmu nih” teriak Dewi menghadap ke atas memanggil Toni. Terlihat Toni bergegas keluar dari kamarnya dan turun ke ruang tamu menemui Riski, “hey ikut aku” kata Toni mengajak Riski ke kamarnya, setelah mengunci pintu rapat-rapat mereka pun mendiskusikan rencana mereka.
Toni dan Riski sudah bersahabat sejak smp, mereka akrab seperti saudara. Riski tau Toni menyukai seorang gadis di sekolah dan berniat membantu temannya itu sebagai makcomblang tentunya dengan bayaran yang pantas, Toni berjanji akan memberikannya hadiah.
Keesokan paginya dengan wajah ceria Toni melangkah ke sekolah. Diperjalanan, yang Toni tunggu-tunggu akhirnya berbunyi, sms dari Riski “Ton, lo di mana? Aku udah di halte nih, target udah terlihat, cepetan,..!” dengan semangat Toni langsung berlari ke halte tempat biasa dia naik bus ke sekolah. Tiba di halte terlihat Riski sudah mau naik bus, Toni pun berlari lebih kencang mengejar bus itu “tunggu,.. tunggu,..” teriak Toni dari jauh, bus pun berhenti karna bantuan Riski.
Dengan tergesah-gesah Toni naik ke bus, matanya bergerak kesana kemari mencari keberadaan Riski. Terlihat Riski duduk di kursi ke tiga dari pintu depan, dan sesuai rencana mereka pujaan hatinya duduk di sebelah Riski. Toni menyuruh Riski mengikuti gebetannya itu dan duduk di sebelahnya agar Toni bisa duduk di situ bersamanya.
Dengan wajah gembira Toni mendekati mereka, mengetahui keberadaan Toni, Riski langsung berdiri dan berpindah tempat. Toni pun duduk di tempat Riski, “hay,..” sapa Toni melancarkan serangannya pada Wulan gadis cantik teman kelasnya Riski yang di taksirnya  sejak masuk sma. “hay,.” Jawab Wulan heran melihat Toni tiba-tiba duduk di tempat Riski, “kemana Riski?” tanya wulan sambil melihat kebelakang mencari Riski. “oh, katanya dia lebih suka duduk di dekat pintu, jadi dia berpindah tempat. Nggak apa-apa kan kalo aku yang duduk di sini?” jawab Toni membuka pembicaraan. “oh nggak apa-apa sih, duduk aja!” balas Wulan.
Pagi ini rencana pertama mereka berhasil, setelah kenalan Toni mulai akrab dan tidak canggung lagi berbicara didepan wulan. Tepat pukul 09.30 lonceng sekolah berbunyi waktunya istirahat dan semua murid keluar kelas kecuali Toni, sambil memegang buku yang dipinjam dari perpustakaan Toni gelisah menunggu perintah dari makcomblang setianya Riski.
Setelah menunggu beberapa saat, heandponenya berbunyi. Sms dari Riski, “Ton, Wulan udah mau ke perpus nih, loh siap-siap”. Dengan santai tapi sedikit tegang toni bergegas menuju perpus membawa buku bacaan favorit Wulan. Riski memberitahu Toni buku bacaan yang suka di baca Wulan dan menyuruh Toni meminjam buku itu dari perpustakaan dan membacanya, supaya ketika Wulan mencari buku yang ingin di bacanya, buku itu ada pada Toni.
Tiba diperpustakaan Toni langsung mencari Wulan, terlihat dia sedang kebingungan mencari buku favoritnya. Meski agak gugup Toni mulai menjalankan rencananya, dia mulai mendekati Wulan dan berpura-pura meletakan buku itu di rak, “oh, jadi kamu Ton yang pinjam buku itu?” kata wulan lega melihat buku itu ada pada Toni. “iya, aku tertarik dengan ceritanya, jadi kemarin aku pinjam untuk di baca di rumah” jawab Toni, “ternyata kamu juga suka ceritanya, aku belum selasai baca, gimana ceritanya Ton? Seru?” tanya Wulan sambil tersenyum malu-malu. “kalo aku ceritain nanti ceritanya jadi nggak seru, nanti kamu baca aja, pokoknya seru deh,..” kata Toni menyodorkan buku itu pada Wulan. Mereka saling bercanda dan tertawa bersama, melihat mereka semakin akrab Riski sangat bahagia.
“nanti malam kamu ada acara nggak?” tanya Toni berniat mengajak Wulan jalan-jalan, “nggak, kenapa?” sahut Wulan. “mau nggak jalan bareng?” tanya Toni penuh harapan, “boleh” jawab Wulan malu-malu. “kalo gitu, jam tujuh aku jemput yah,..?” kata Toni, “ok” kata Wulan sambil tersenyum.
Rencana Riski berhasil, Toni sangat berterima kasih karna bantuan sahabetnya itu sekarang dia bisa jalan bareng Wulan. “hebat kamu ris, semua rencana kamu nggak ada yang sia-sia. Aku beruntung punya sahabat sepertimu” kata Toni penuh bahagia. “hehe,.. itu memang sudah tugas seorang sahabat, hebat kan? Riski,..” kata Riski bercanda sombong.
Malam itu, cuaca sedikit mendung. Dengan kemeja tangan panjang kotak-kotak, bedak tipis di wajahnya dan rambut yang diberi wax Toni siap di depan rumah wulan menunggu pujaan hatinya keluar. Tiba-tiba handponenya berbunyi, tak seperti biasanya kali ini bukan dari Riski tapi Wulan “ton, maaf yah, aku di paksa jalan bareng anak teman ayahku malam ini L tadi dia udah jemput aku, kami di jalan sekarang”. Toni sangat marah dan kecewa “sial...!!” kata Toni sambil menendang pintu gerbang rumah Wulan, karna tak dapat berbuat apa-apa Toni pun pulang dengan kesal dan kecewa rencananya malan ini akan mengungkapkan perasaannya pada Wulan gagal total. Toni ingin memberitahu sahabatnya dan meminta bantuannya tapi dia malu karena sudah terlalu banyak meminta bantuan padanya.
Berjalan perlahan dengan penuh kecewa Toni menendang beberapa batu yang menghalangi jalannya. Tiba-tiba Toni di kejutkan dengan suara klakson motor metik di belakangnya. Tet tet, tet tet!! Klakson Riski mengagetkan Toni temannya itu, “ton,..” kata Riski menyapa Toni, “eh, kamu ki. Ngapain kesini?” tanya Toni pura-pura tidak terjadi apa-apa. “udah deh,... nih!! Cepetan bawa motor aku terus jemput Wulan di dekat rumah makan samping SPBU” kata Riski sambil memakaikan helmnya pada Toni. “tunggu ki, apa maksudnya nih?” tanya Toni penuh heran, “udah, tenang aja semua udah aku urus” kata Riski meyakinkan Toni.
Toni pun pergi sesuai perintah Riski, tiba di sana terlihat mobil mewah dengan kedua ban belakang yang kempes dan Wulan sedang bertengkar dengan Kevin anak teman ayahnya itu. Toni mendekati mereka dan mengajak Wulan naik bersamanya, Wulan sangat senang dan pergi bersama Toni. Dengan marah dan kesal Kevin hanya dapat melihat Wulan pergi bersama Toni dan bingung harus mengapakan mobilnya yang kempes itu.
“kamu nggak marah kan sama aku?” tanya Wulan sambil bersadar memeluk punggung Toni. “udah, nggak apa-apa,..” jawab Toni penuh bahagia. “ngomong-ngomong, dari mana kamu tau aku ada di situ?” tanya Wulan sedikit heran dengan kehadiran Toni, “ada seorang malaikat yang memberitahuku,..” sahut Toni sambil tersenyum dan berkata dalam hati “jadi ini ulah kamu ki”.
Riski sudah mengatur semuanya, dia tau Toni dan Wulan akan jalan bareng malam ini. Karna kawatir dengan sahabatnya Riski berniat membantu Toni memastikan semuanya berjalan dengan baik, malam itu sebelum kedatangan Toni, Riski sudah tiba terlebih dahulu di rumah Wulan memantau keadaan Wulan. Sambil manunggu Toni dia kaget karena yang datang bukan Toni, tapi laki-laki lain dengan mobil mewah, terlihat Wulan keluar dari rumahnya dengan wajah suram dan naik kedalam mobil itu kemudian mereka pergi bersama.
Dengan motor metiknya Riski pun mengikuti mereka, melihat mobil itu berhenti Riski mulai melancarkan aksinya. Ketika laki-laki itu keluar dari mobilnya dan membeli rokok di pinggir jalan Riski bergegas meletakan paku di kedua ban belakangnya, keberadaan Riski sempat terlihat oleh laki-laki itu tapi beruntung dia tidak curiga sama sekali. Setelah melakukan hal itu Riski langsung pergi mencari Toni yang mungkin tak jauh dari rumah Wulan dan semuanya berjalan lancar.
Toni berhasil menyatakan perasaannya pada Wulan dan mereka akhirnya jadian. Kesokan peginya di sekolah “ki, kamu memang sahabat terbaik aku,..” kata Toni pada Riski sambil menggandeng leher sahabatnya itu. “hehe, awas kalo kalian putus. Aku nggak akan bantu kamu lagi” kata Riski sambil tertawa lebar.
“nanti malam temenin aku ke rumah ayah aku, mau nggak?” tanya Riski mengajak Toni. “duh,.. gimana yah,.. aku udah ada janji sama Wulan” jawab Toni merasa bersalah. “wah, kalo gini, kayaknya kamu bisa lupain aku gara-gara Wulan” kata Riski bercanda menyindir Toni, “nggak mungkin lah ki, kamu tetap sahabat terbaik aku. Cuman aku udah keburu janji sama Wulan nanti dia marah lagi, kan nggak lucu kemarin baru jadian terus sekarang putus,..” kata Toni mencoba meyakinkan Riski. “ok deh, nggak apa-apa,..” sahut Riski mengerti keadaan Toni.
“gimana kalo besok aja, maen ps di rumah aku...” kata Toni mengajak Riski. “iya, udah lama kita nggak main ps bareng” jawab Riski.
Malam itu dengan motor metiknya, Riski berangkat kerumah ayahnya, sayang sekali ayahnya  tidak ada di rumah itu, hanya ada ibu tirinya. Riski pulang dengan kecewa dan kesal karna ayahnya tidak ada dan hanya dimarahi ibu tirinya. Diperjalanan Riski dikejutkan dengan suara klakson mobil di belakangnya, setelah mengetahui ternyata itu Kevin, laki-laki yang melihat perbuatan Riski mengempesi mobilnya. Riski langsung mempercepat motornya dan mencoba melarikan diri, dengan kecepatan tinggi.
“aku bahagia sekarang aku memiliki kamu,” kata Toni merayu Wulan. “aku juga bahagia” jawab Wulan malu-malu. Perasaan Toni sedikit gelisah tapi karna sedang bersama Wulan dia sangat bahagia, “makasih yah, udah nganterin aku” kata Wulan sambil membuka pintu gerbang rumahnya “iya, masuklah!! Sampai jumpa besok yah” kata Toni.
Entah kenapa perasaan Toni semakin gelisah, dia pun membuka hpnya yang di silent. Sedikit kaget melihat satu panggilan tak terjawab dari Riski, dia menelfon balik tapi tidak di angkat, perasaannya semakin gelisah. Toni bergegas kerumah Riski, kata ibunya Riski pergi ke rumah ayahnya dan sampai sekarang belum kembali.
Toni terus menelfon Riski tapi sama saja tidak di angkat, dengan penuh kuatir Toni pergi kerumah ayahnya Riski tapi dia juga tidak ditemukan di sana. Apa yang terjadi dengan Riski menjadi beban pikiran Toni sampai dia tak bisa tidur, Keesokan harinya Toni pergi mencari Riski “kamu liat Riski nggak?” tanya Toni pada salah satu teman kelas Riski, “nggak” jawab temannya. Melihat pacarnya Toni begitu gelisah Wulan bingung dan ingin menanyakan sesuatu pada Toni tapi Toni langsung pergi.
Sesaat kemudian bel berbunyi, semua murid masuk kelas dan mulai belajar. “ki, di mana kamu” kata riski dalam hati, menghiraukan pak guru wakil kepala sekolah yang masuk di kelasnya memberi pengumuman. “anak-anak, hari ini sekolah kita sedang mengalami kedukaan” kata pak guru. Semua murid berbisik-bisik, Toni pun kaget. “salah satu teman kita di kelas B tadi malam meninggal dunia, sebagai rasa belasungkawa mari kita mengumpulkan dana duka buat keluarganya” lanjut pak guru menyampaikan berita duka kepada murid-muridnya. Apa yang menjadi kekuatiran Toni ternyata benar, Toni sangat terpukul mendengar kabar bahwa sahabatnya tewas akibat kecelakaan. Toni tak dapat berkata-kata karena menyadari bahwa saat ini dia tak lagi memiliki sahabat, dia tak dapat berbuat apa-apa ketika sahabatnya membutuhkan pertolongannya, Toni sangat menyesal dan merasa bersalah.
Segera setelah pulang sekolah Toni bergegas kerumah Riski “Malam itu saksi mata melihat Riski mengendarai motor dengan kecepatan tinggi, dan karena kehilangan kendali dia menabrak terotoar dan terlempar kurang lebih sejauh sepuluh meter. Saat itu dia masih sadarkan diri dan memegang handpone, sepertinya ingin menelfon seseorang” kata polisi menjelaskan kronologis kejadian kepada ibu Riski yang hanya diam berlinang air mata. Setelah di tolong dan di bawa ke rumah sakit, riski meniggal di perjalanan.
Setelah mendengar semua itu kesedihan yang sangat mendalam dirasakan Toni mengingat dia belum dapat membalas budi baik sahabatnya itu. Toni hanya terdiam berlinang air mata melihat sahabatnya terbujur kaku dalam peti, bagi Toni sahabat adalah seorang yang paling mengerti, setia ketika di butuhkan dan tidak pernah mengeluh, dan satu-satunya sosok sahabat yang dia kenal hanyalah Riski yang kini telah tiada..
 “Sahabat yang seperti ini  jangan pernah di sia-siakan nak” kata Toni pada Riski anak laki-laki buah cintanya dengan Wulan yang sudah menjadi istrinya setelah sepuluh tahun kepergian sahabat sejatinya “Riski”. TAMAT

Nama : Mario Laoh
Alamar : Manado
NO hp : 085298219434
Masih pemula J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar