Penulis : Mario
Laoh
Sore itu, Riski
berkunjung ke rumah sahabatnya Toni yang tak jauh dari tempat tinggalnya. Tok
tok tok, “siapa ?” suara halus dari dalam rumah menyapa Riski, ketika pintu
dibuka ternyata Dewi kakak perempuan Toni yang baru pulang dari bandung. “Maaf
kak, Toninya ada?” tanya Riski, “oh, ada di dalam,.. ayo silahkan masuk!” Jawab
Dewi mengajak Riski masuk kedalam. Dengan sungkan Riski pun masuk kedalam rumah
Toni dan duduk di kursih ruang tamu, “Toni,..! ada temanmu nih” teriak Dewi
menghadap ke atas memanggil Toni. Terlihat Toni bergegas keluar dari kamarnya dan
turun ke ruang tamu menemui Riski, “hey ikut aku” kata Toni mengajak Riski ke
kamarnya, setelah mengunci pintu rapat-rapat mereka pun mendiskusikan rencana
mereka.
Toni dan Riski
sudah bersahabat sejak smp, mereka akrab seperti saudara. Riski tau Toni
menyukai seorang gadis di sekolah dan berniat membantu temannya itu sebagai
makcomblang tentunya dengan bayaran yang pantas, Toni berjanji akan
memberikannya hadiah.
Keesokan paginya
dengan wajah ceria Toni melangkah ke sekolah. Diperjalanan, yang Toni
tunggu-tunggu akhirnya berbunyi, sms dari Riski “Ton, lo di mana? Aku udah di
halte nih, target udah terlihat, cepetan,..!” dengan semangat Toni langsung
berlari ke halte tempat biasa dia naik bus ke sekolah. Tiba di halte terlihat Riski
sudah mau naik bus, Toni pun berlari lebih kencang mengejar bus itu “tunggu,..
tunggu,..” teriak Toni dari jauh, bus pun berhenti karna bantuan Riski.
Dengan
tergesah-gesah Toni naik ke bus, matanya bergerak kesana kemari mencari
keberadaan Riski. Terlihat Riski duduk di kursi ke tiga dari pintu depan, dan
sesuai rencana mereka pujaan hatinya duduk di sebelah Riski. Toni menyuruh Riski
mengikuti gebetannya itu dan duduk di sebelahnya agar Toni bisa duduk di situ
bersamanya.
Dengan wajah
gembira Toni mendekati mereka, mengetahui keberadaan Toni, Riski langsung
berdiri dan berpindah tempat. Toni pun duduk di tempat Riski, “hay,..” sapa Toni
melancarkan serangannya pada Wulan gadis cantik teman kelasnya Riski yang di
taksirnya sejak masuk sma. “hay,.” Jawab
Wulan heran melihat Toni tiba-tiba duduk di tempat Riski, “kemana Riski?” tanya
wulan sambil melihat kebelakang mencari Riski. “oh, katanya dia lebih suka
duduk di dekat pintu, jadi dia berpindah tempat. Nggak apa-apa kan kalo aku
yang duduk di sini?” jawab Toni membuka pembicaraan. “oh nggak apa-apa sih,
duduk aja!” balas Wulan.
Pagi ini rencana
pertama mereka berhasil, setelah kenalan Toni mulai akrab dan tidak canggung
lagi berbicara didepan wulan. Tepat pukul 09.30 lonceng sekolah berbunyi
waktunya istirahat dan semua murid keluar kelas kecuali Toni, sambil memegang
buku yang dipinjam dari perpustakaan Toni gelisah menunggu perintah dari
makcomblang setianya Riski.
Setelah menunggu
beberapa saat, heandponenya berbunyi. Sms dari Riski, “Ton, Wulan udah mau ke
perpus nih, loh siap-siap”. Dengan santai tapi sedikit tegang toni bergegas
menuju perpus membawa buku bacaan favorit Wulan. Riski memberitahu Toni buku
bacaan yang suka di baca Wulan dan menyuruh Toni meminjam buku itu dari
perpustakaan dan membacanya, supaya ketika Wulan mencari buku yang ingin di
bacanya, buku itu ada pada Toni.
Tiba
diperpustakaan Toni langsung mencari Wulan, terlihat dia sedang kebingungan
mencari buku favoritnya. Meski agak gugup Toni mulai menjalankan rencananya,
dia mulai mendekati Wulan dan berpura-pura meletakan buku itu di rak, “oh, jadi
kamu Ton yang pinjam buku itu?” kata wulan lega melihat buku itu ada pada Toni.
“iya, aku tertarik dengan ceritanya, jadi kemarin aku pinjam untuk di baca di
rumah” jawab Toni, “ternyata kamu juga suka ceritanya, aku belum selasai baca,
gimana ceritanya Ton? Seru?” tanya Wulan sambil tersenyum malu-malu. “kalo aku
ceritain nanti ceritanya jadi nggak seru, nanti kamu baca aja, pokoknya seru
deh,..” kata Toni menyodorkan buku itu pada Wulan. Mereka saling bercanda dan
tertawa bersama, melihat mereka semakin akrab Riski sangat bahagia.
“nanti malam
kamu ada acara nggak?” tanya Toni berniat mengajak Wulan jalan-jalan, “nggak,
kenapa?” sahut Wulan. “mau nggak jalan bareng?” tanya Toni penuh harapan,
“boleh” jawab Wulan malu-malu. “kalo gitu, jam tujuh aku jemput yah,..?” kata Toni,
“ok” kata Wulan sambil tersenyum.
Rencana Riski
berhasil, Toni sangat berterima kasih karna bantuan sahabetnya itu sekarang dia
bisa jalan bareng Wulan. “hebat kamu ris, semua rencana kamu nggak ada yang
sia-sia. Aku beruntung punya sahabat sepertimu” kata Toni penuh bahagia. “hehe,..
itu memang sudah tugas seorang sahabat, hebat kan? Riski,..” kata Riski
bercanda sombong.
Malam itu, cuaca
sedikit mendung. Dengan kemeja tangan panjang kotak-kotak, bedak tipis di wajahnya
dan rambut yang diberi wax Toni siap di depan rumah wulan menunggu pujaan
hatinya keluar. Tiba-tiba handponenya berbunyi, tak seperti biasanya kali ini
bukan dari Riski tapi Wulan “ton, maaf yah, aku di paksa jalan bareng anak teman
ayahku malam ini L tadi dia udah jemput aku, kami di jalan
sekarang”. Toni sangat marah dan kecewa “sial...!!” kata Toni sambil menendang
pintu gerbang rumah Wulan, karna tak dapat berbuat apa-apa Toni pun pulang
dengan kesal dan kecewa rencananya malan ini akan mengungkapkan perasaannya
pada Wulan gagal total. Toni ingin memberitahu sahabatnya dan meminta
bantuannya tapi dia malu karena sudah terlalu banyak meminta bantuan padanya.
Berjalan
perlahan dengan penuh kecewa Toni menendang beberapa batu yang menghalangi
jalannya. Tiba-tiba Toni di kejutkan dengan suara klakson motor metik di
belakangnya. Tet tet, tet tet!! Klakson Riski mengagetkan Toni temannya itu,
“ton,..” kata Riski menyapa Toni, “eh, kamu ki. Ngapain kesini?” tanya Toni
pura-pura tidak terjadi apa-apa. “udah deh,... nih!! Cepetan bawa motor aku
terus jemput Wulan di dekat rumah makan samping SPBU” kata Riski sambil
memakaikan helmnya pada Toni. “tunggu ki, apa maksudnya nih?” tanya Toni penuh
heran, “udah, tenang aja semua udah aku urus” kata Riski meyakinkan Toni.
Toni pun pergi
sesuai perintah Riski, tiba di sana terlihat mobil mewah dengan kedua ban
belakang yang kempes dan Wulan sedang bertengkar dengan Kevin anak teman
ayahnya itu. Toni mendekati mereka dan mengajak Wulan naik bersamanya, Wulan sangat
senang dan pergi bersama Toni. Dengan marah dan kesal Kevin hanya dapat melihat
Wulan pergi bersama Toni dan bingung harus mengapakan mobilnya yang kempes itu.
“kamu nggak
marah kan sama aku?” tanya Wulan sambil bersadar memeluk punggung Toni. “udah,
nggak apa-apa,..” jawab Toni penuh bahagia. “ngomong-ngomong, dari mana kamu
tau aku ada di situ?” tanya Wulan sedikit heran dengan kehadiran Toni, “ada
seorang malaikat yang memberitahuku,..” sahut Toni sambil tersenyum dan berkata
dalam hati “jadi ini ulah kamu ki”.
Riski sudah
mengatur semuanya, dia tau Toni dan Wulan akan jalan bareng malam ini. Karna
kawatir dengan sahabatnya Riski berniat membantu Toni memastikan semuanya
berjalan dengan baik, malam itu sebelum kedatangan Toni, Riski sudah tiba terlebih
dahulu di rumah Wulan memantau keadaan Wulan. Sambil manunggu Toni dia kaget
karena yang datang bukan Toni, tapi laki-laki lain dengan mobil mewah, terlihat
Wulan keluar dari rumahnya dengan wajah suram dan naik kedalam mobil itu kemudian
mereka pergi bersama.
Dengan motor
metiknya Riski pun mengikuti mereka, melihat mobil itu berhenti Riski mulai
melancarkan aksinya. Ketika laki-laki itu keluar dari mobilnya dan membeli
rokok di pinggir jalan Riski bergegas meletakan paku di kedua ban belakangnya,
keberadaan Riski sempat terlihat oleh laki-laki itu tapi beruntung dia tidak
curiga sama sekali. Setelah melakukan hal itu Riski langsung pergi mencari Toni
yang mungkin tak jauh dari rumah Wulan dan semuanya berjalan lancar.
Toni berhasil
menyatakan perasaannya pada Wulan dan mereka akhirnya jadian. Kesokan peginya
di sekolah “ki, kamu memang sahabat terbaik aku,..” kata Toni pada Riski sambil
menggandeng leher sahabatnya itu. “hehe, awas kalo kalian putus. Aku nggak akan
bantu kamu lagi” kata Riski sambil tertawa lebar.
“nanti malam
temenin aku ke rumah ayah aku, mau nggak?” tanya Riski mengajak Toni. “duh,..
gimana yah,.. aku udah ada janji sama Wulan” jawab Toni merasa bersalah. “wah,
kalo gini, kayaknya kamu bisa lupain aku gara-gara Wulan” kata Riski bercanda
menyindir Toni, “nggak mungkin lah ki, kamu tetap sahabat terbaik aku. Cuman aku
udah keburu janji sama Wulan nanti dia marah lagi, kan nggak lucu kemarin baru
jadian terus sekarang putus,..” kata Toni mencoba meyakinkan Riski. “ok deh,
nggak apa-apa,..” sahut Riski mengerti keadaan Toni.
“gimana kalo
besok aja, maen ps di rumah aku...” kata Toni mengajak Riski. “iya, udah lama
kita nggak main ps bareng” jawab Riski.
Malam itu dengan
motor metiknya, Riski berangkat kerumah ayahnya, sayang sekali ayahnya tidak ada di rumah itu, hanya ada ibu
tirinya. Riski pulang dengan kecewa dan kesal karna ayahnya tidak ada dan hanya
dimarahi ibu tirinya. Diperjalanan Riski dikejutkan dengan suara klakson mobil
di belakangnya, setelah mengetahui ternyata itu Kevin, laki-laki yang melihat
perbuatan Riski mengempesi mobilnya. Riski langsung mempercepat motornya dan
mencoba melarikan diri, dengan kecepatan tinggi.
“aku bahagia
sekarang aku memiliki kamu,” kata Toni merayu Wulan. “aku juga bahagia” jawab Wulan
malu-malu. Perasaan Toni sedikit gelisah tapi karna sedang bersama Wulan dia
sangat bahagia, “makasih yah, udah nganterin aku” kata Wulan sambil membuka
pintu gerbang rumahnya “iya, masuklah!! Sampai jumpa besok yah” kata Toni.
Entah kenapa
perasaan Toni semakin gelisah, dia pun membuka hpnya yang di silent. Sedikit
kaget melihat satu panggilan tak terjawab dari Riski, dia menelfon balik tapi
tidak di angkat, perasaannya semakin gelisah. Toni bergegas kerumah Riski, kata
ibunya Riski pergi ke rumah ayahnya dan sampai sekarang belum kembali.
Toni terus
menelfon Riski tapi sama saja tidak di angkat, dengan penuh kuatir Toni pergi
kerumah ayahnya Riski tapi dia juga tidak ditemukan di sana. Apa yang terjadi
dengan Riski menjadi beban pikiran Toni sampai dia tak bisa tidur, Keesokan harinya
Toni pergi mencari Riski “kamu liat Riski nggak?” tanya Toni pada salah satu
teman kelas Riski, “nggak” jawab temannya. Melihat pacarnya Toni begitu gelisah
Wulan bingung dan ingin menanyakan sesuatu pada Toni tapi Toni langsung pergi.
Sesaat kemudian
bel berbunyi, semua murid masuk kelas dan mulai belajar. “ki, di mana kamu”
kata riski dalam hati, menghiraukan pak guru wakil kepala sekolah yang masuk di
kelasnya memberi pengumuman. “anak-anak, hari ini sekolah kita sedang mengalami
kedukaan” kata pak guru. Semua murid berbisik-bisik, Toni pun kaget. “salah
satu teman kita di kelas B tadi malam meninggal dunia, sebagai rasa
belasungkawa mari kita mengumpulkan dana duka buat keluarganya” lanjut pak guru
menyampaikan berita duka kepada murid-muridnya. Apa yang menjadi kekuatiran
Toni ternyata benar, Toni sangat terpukul mendengar kabar bahwa sahabatnya
tewas akibat kecelakaan. Toni tak dapat berkata-kata karena menyadari bahwa
saat ini dia tak lagi memiliki sahabat, dia tak dapat berbuat apa-apa ketika
sahabatnya membutuhkan pertolongannya, Toni sangat menyesal dan merasa
bersalah.
Segera setelah
pulang sekolah Toni bergegas kerumah Riski “Malam itu saksi mata melihat Riski
mengendarai motor dengan kecepatan tinggi, dan karena kehilangan kendali dia
menabrak terotoar dan terlempar kurang lebih sejauh sepuluh meter. Saat itu dia
masih sadarkan diri dan memegang handpone, sepertinya ingin menelfon seseorang”
kata polisi menjelaskan kronologis kejadian kepada ibu Riski yang hanya diam
berlinang air mata. Setelah di tolong dan di bawa ke rumah sakit, riski meniggal
di perjalanan.
Setelah
mendengar semua itu kesedihan yang sangat mendalam dirasakan Toni mengingat dia
belum dapat membalas budi baik sahabatnya itu. Toni hanya terdiam berlinang air
mata melihat sahabatnya terbujur kaku dalam peti, bagi Toni sahabat adalah
seorang yang paling mengerti, setia ketika di butuhkan dan tidak pernah
mengeluh, dan satu-satunya sosok sahabat yang dia kenal hanyalah Riski yang
kini telah tiada..
“Sahabat yang seperti ini jangan pernah di sia-siakan nak” kata Toni
pada Riski anak laki-laki buah cintanya dengan Wulan yang sudah menjadi
istrinya setelah sepuluh tahun kepergian sahabat sejatinya “Riski”. TAMAT
Nama : Mario Laoh
Alamar : Manado
NO hp : 085298219434
Masih pemula J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar