Di rumah, gua punya peliharaan yang unik. Yap, burung hantu. Adek gua
bilang kalau kita melihara burung hantu di rumah, keberuntungan akan
selalu menggerayangi hidup kita. Gue sedikit mau berbagi memori terburuk
dalam perjalanan hidup gua. Pengalaman yang gak bakalan pernah gua
lupain seumur hidup gua. Seandainya aja tuhan ngasih gua kesempatan buat
ngatur ulang memori gua, gua bakalan langsung ngehapus memori gua
tentang pengalaman satu ini.
Di pagi hari nan cerah itu, gua beranjak dari tempat yang memiliki
gravitasi terbesar di hidup gua, Kasur. Gua bangun dan beranjak dengan
tampang seperti Mr. P (baca: Mr. Pocong) dengan tampang penuh masalah
dan penuh dosa. Tetesan darah serasa menghiasi wajah gua nan asri dan
ternyata wajah ganteng gua beneran mengeluarkan darah. Gua mimisan!!
seketika itu juga melintas di otak gua sekelebat bayangan hitam yang
mengirimkan pesan dari tuhan agar gua kembali tidur dan menyumbat hidung
gua dengan kapas putih dan komplitlah gua sekarang seperti pocong.
Beberapa saat kemudian, gua kembali mencoba untuk bangkit dari kasur gua
yang penuh dengan tungau dan untungnya hidung mancung gua sudah
berhenti mengeluarkan tetesan darahnya.
Setelah bersiap siap untuk kembali melakukan aktivitas rutin gua di
pagi hari, gua mencoba untuk keluar dari gubuk kecil, kotor dan lusuh
yang gua buat dengan berliter liter keringat bercampur darah. Saat
pertama kali gua keluar rumah, gua langsung disambut dengan seorang
lelaki bencong yang akhirnya merusak mood gua pagi itu. Gua terdiam
mendapati kalau pagi gua harus disambut seorang bencong yang sangat… Ah
sudahlah. Gua berjalan menuju pasar yang letaknya tidak terlalu jauh
dari rumah gua, kira kira hanya sekitar 5 kilometer dari tempat gua
sekarang. Dalam perjalanan menuju pasar, gua bertemu dengan banyak
bencong bencong penggoda bergigi tonggos dan berbadan kekar. Akhirnya
gua memutuskan untuk singgah ke masjid terdekat agar gua bisa memohon
kepada yang maha kuasa supaya gua tidak lagi bertemu bencong bencong
penggoda dan bergigi tonggos lagi.
“Ya tuhanku, ampunilah segala dosa dosaku dan jauhkanlah hambamu yang
lemah ini dari bencong bencong yang bergigi tonggos tuhan.. ”
Gua memohon dengan suara serak sambil diiringgi tetesan air mata. Gua
sangat berharap permohonan gua dikabulkan oleh tuhan. Saat gua hendak
beranjak ke luar dari masjid, tiba tiba saja ada suatu benda tajam yang
menggores dahi lebar gua. Saat itu juga hati kecil gua terhenyak karena
gua sadar kalau tuhan belum mengabulkan permohonan gua. Dahi gua
tergores dengan gigi bencong yang tampaknya sedang mencuri kotak amal di
masjid. Seketika itu juga, terjadi pertarungan antara gua dan sang
bencong, gua langsung mukul gigi si bencong dengan ilmu tenaga dalam
yang udah gua pelajari selama beberapa tahun belakangan ini. Setelah gua
puas mukulin gigi si bencong tonggos penggoda, ternyata si bencong
masih bisa bangun dan dia berusaha buat nusukin gigi tonggosnya ke perut
gua. Gua langsung lari secepat kilat menuju semak semak supaya gua bisa
lolos dari tajamnya gigi si bencong. Gua sembunyi di balik semak semak
sampai gua merasa keadaan sudah aman.
Setelah merasa keadaan aman, gua langsung keluar dari semak semak
dengan senyum yang tersungging di bibir sekseh gua. Saat gua sedang
dalam perjalanan menuju pasar engan hati gembira, gua merasa memilih
jalan yang salah dan akhirnya gua sadar kalo gua sudah tersesat. Saat
gua mencoba untuk berputar arah, gua melihat sekelompok bencong bencong
pembunuh. Gua shock dan otomatis gua langsung lari menuju sebuah gang
kecil di tepi jalanan. Saat gua sedang berlari, tiba tiba gua memutuskan
untuk berhenti. Di ujung gang ternyata hanya ada jalan buntu dan
akhirnya gua memutuskan untuk duduk dengan tangisan yang tercerai berai.
Suara tangisan gua tenyata membangunkan seluruh bencong penghuni gang
itu dan mereka keluar membawa gigi mereka. Gua tenyata masuk ke dalam
area paling terlarang di dunia yang fana ini. Tempat ini biasa disebut
“Monggos” atau Markas para bencong tonggos sejati. Seketika itu juga,
tubuh gua dicabik cabik oleh bencong bencong yang tak berkeprimanusiaan
itu. Perut gua ditusuk dengan ganasnya dan gua diterkam oleh para
bencong bencong itu.
Gua merasa hina dan gua merasa kalau harga diri gua sudah
dipermainkan. Akhirnya gua hanya bisa menutup mata. Namun tiba tiba, ada
seorang bencong yang juga bergigi tonggos datang untuk menyelamatkan
gua dari bencong bencong lainnya. Gua dibawanya ke rumah sakit dalam
keadaan kritis, dan unungnya keprofessionalisasian dokter di rumah sakit
itu dapat menyelamatkan hidup gua dari terkaman para bencong bencong
pembunuh itu. Dan akhirnya, gua masih bisa bernafas di dunia ini, Terima
kasih Bencong tonggos nan baik hati, kau telah menyelamatkan hidupku.
TerimaKasih…
Cerpen Karangan: Faalih M Yusa
Blog: http://faalihyusa.blogspot.com/
SUMBER : http://cerpenmu.com/cerpen-fantasi-fiksi/bencong-bencong-itu.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar