Pada dasarnya perpangkatan bukanlah suatu sistem bilangan
atau jenis bilangan melainkan suatu kosep atau metode penulisan suatu bilangan.
Bilangan berpangkat bukanlah suatu jenis bilangan melainkan gabungan dari suatu
bilangan dengan konsep atau metode perpangkatan. Kita tidak menyebut bilangan
berpangkat sebagai sistem bilangan seperti bilangan Bulat, bilangan Cacah,
bilangan Rasonal, bilangan Rill dan sebagainya, karena pada dasarnya memang
berbeda. Dalam kehidupan sehari-hari kita sering menemui perkalian suatu
bilangan dengan faktor-faktor yang sama.
2 x 2 x 2 ...
4 x 4 x 4 ...
Perkalian bilangan-bilangan dengan
faktor-faktor yang sama seperti di atas disebut sebagai perkalian berulang.
Setiap perkalian berulang dapat dituliskan secara ringkas dengan menggunakan
notasi bilngan berpangkat.
Pemahaman di atas sebagai pengantar kita
untuk memahami konsep perpangkatan dalam pembahasan ini. Selanjutnya akan
dibahas tentang perpangkatan, jenis-jenisnya dan sifat-sifatnya serta manfaat
bilangan berpangkat.
1.
Definisi bilangan
berpangkat
Jika a adalah bilangan riil dan n bilangan bulat positif maka
an (dibaca "a pangkat n") adalah
hasil kali n buah faktor yang masing-masing faktornya adalah a. Jadi,
pangkat bulat positif secara umum dinyatakan dalam bentuk:
an = a x a x a x a....... ( sebanyak n faktor)
dengan :
a = bilangan dasar
n = pangkat atau eksponen
an = bilangan berpangkat.
2.
Sejarah bilangan berpangkat
Eksponen berasal
dari bahasa latin “ex”(out) dan “pon”(place) jadi kalau digabungkan menjadi
placed out, yang berarti pangkat.
Cara penulisan perkalian berulang
dengan menggunakan notasi bilangan berpangkat atau notasi eksponen pertama kali
dikenalkan oleh salah satu ahli matematika berkebangsaan perancis Rene
Deskrates (1596 – 1650). Pada abad
16, matematikawan Italia menggunakan istilah lato (artinya “sisi”) yang
terkadang diartikan dengan akar karena sisi tersebut tidak diketahui
panjangnya. Istilah ini kemudian diambil untuk menghitung panjang sisi
dari suatu bujur sangkar dan bilangan kuadrat disebut dengan lato cubico.
Bombelli
menggunakan terminologi dengan menggunakan simbol R., artinya radix, namun
mirip dengan simbol universal yang biasa digunakan dokter dalam menulis resep.
Oleh karena itu, Bombelli kemudian menggantinya dengan simbol R.q. (radice
quarata), sehingga akar kuadrat untuk 2 ditulis dengan notasi R.q.2 dan akar
kubik untuk 2 ditulis dengan notasi R.c. 2 (radice cubica). Simbol-simbol di
atas mulai digunakan Bombelli dalam buku karyanya yang terkenal L’Algebra.
Menulis
notasi akar dengan R.q. atau R.c. ternyata merepotkan dan tidak praktis
sehingga dibuat dengan menuliskan dalam bentuk r (huruf r kecil). Apa yang
terjadi kemudian? Penulisan notasi dengan r ini jika ditulis oleh tangan (bukan
mesin ketik) – terlebih tulisan orang tersebut jelak, maka yang muncul adalah
bentuk yang tidak lazim.
Lama
kelamaan huruf r kecil yang beragam ini diberi bentuk baku yaitu bentuk seperti
yang kita kenal sekarang ini,√.
3.
Jenis-jenis bilangan berpangkat
a.
Pangkat sebenarnya
1)
Perkalian dua
bilangan berpangkat
ap
. aq = ap+q
2)
Pembagian dua bilangan
berpangkat
ap :
aq = ap-q
3)
Pemangkatan bilangan
berpangkat
(ap)q
= ap.q
4)
Pemangkatan bilangan
rasional
5)
Perpangkatan perkalian dua bilangan
(a.b)q = aqbq
b. Pangkat tak sebenarnya
1.
Bilangan berpangkat 0
a0 = 1
2.
Pangkat bulat negatif
3.
Pangkat pecahan
4.
Manfaat bilangan berpangkat
Gambar diatas adalah Ikeya-Seki
yang terlihat pada akhir tahun 1965. Merupakan komet pertama yang telah diukur
suhunya. Teknik berinfrahmerah menunjukan bahwa ketika berada 32 × 106
km dari matahari suhunya 6500 c.
Ilustrasi diatas merupakan salah satu contoh penggunaan
bilangan berpakngkat dalam penulisan bilangan yang besar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar