Jarak
Mengukur panjang suatu obyek fisik sering dilakukan dalam
kehidupan sehari-hari yang menggunakan alat-alat pengukuran seperti dalam
Gambar 3.1 di bawah ini. Jarak dan
mistar merupakan istilah-istilah yang berhubungan erat dengan kegiatan pengukuran.
Dalam bagian ini istilah-istilah tersebut diformalkan dalam geometri termasuk
satuan pengukuran cara penempatan mistar dalam melakukan pengukuran. Keantaraan titik-titik pada sebuah garis
merupakan salah satu istilah yang dibahas.
1. Jarak sebagai fungsi
Postulat 3.1.
Setiap pasang titik-titik
yang berbeda, berkorespondensi dengan satu bilangan positif. Bilangan ini disebut jarak kedua titik
tersebut.
Postulat ini menyatakan
bahwa jarak adalah suatu fungsi d:
d:
S x S →
(S adalah himpunan titik,
adalah himpunan bilangan real).
Jadi, untuk setiap P dan Q dengan P ≠ Q dalam S;
i.
d(P, Q)
0
ii.
d(P, Q) = d(Q, P)
Definisi 3.1.
d(P, Q) akan disebut jarak
antara P dan Q yang selanjutnya dilambangkan dengan PQ.
Himpunan bilangan nyata dapat
ditunjukkan dengan gambar yakni memasangkan setiap bilangan dengan titik-titik
pada satu garis. Aturan pemasangan ini dikenal
dengan korespodensi satu-satu antara bilangan nyata (bilangan real) dengan
titik-titik pada satu garis. Penggambaran bilangan nyata pada garis lasim
disebut garis bilangan atau mistar. Cara
menggambar garis bilangan diawali dengan menentukan satu titik sebarang pada
garis dan melambangkan titik itu dengan “0”, kemudian ditentukan titik lain
pada garis itu dan melambangkan titik itu dengan “1”. Berdasarkan
Postulat 3.1. dan Definisi 3.1, hubungan letak kedua titik itu dikatakan berjarak
satu. Mengacu pada jarak ini maka
ditentukan titik-titik lainnya pada garis dan melambangkan titik-titik itu
dengan menggunakan lambang bilangan secara berurutan, di sebelah kanan “1” dengan “2”, “3”, dan
seterusnya sedangkan di belah kiri “0” dengan “-1”, “-2”, “-3” dan seterusnya,
Definisi 3.2:
Diberikan f: l
↔
adalah korespondensi satu-satu
antara garis l dan himpunan
bilangan nyata. Jika untuk semua titik P, Q
pada l diperoleh
PQ = │f(P) – f(Q)│
maka f
adalah sistem koordinat untuk l. Untuk
setiap P pada l, x = f(P)
disebut koordinat P.
Postulat 3.2. (Postulat mistar) :
Setiap garis memiliki sistem koordinat.
Berdasarkan postulat-postulat
di atas dapat dibuktikan teorema-teorema berikut:
Teorema 3.1.
Jika f sistem koordinat untuk l
dan g(P) = -f(P) untuk setiap titik P pada l, maka g adalah sistem koordinat untuk l.
Diketahui:
f: l ®
g: l ®
; g(P) = -f(P)
Buktikan
: f = g
Bukti:
|
|
Pernyataan
|
|
Alasan
|
|
1)
|
Ambil x
= g(P) , y = g(Q)
|
……..
|
definisi 3.2
|
|
2)
|
-x = f(P),
-y = f(P)
|
……..
|
diketahui
|
|
3)
|
PQ = │(-x) – (-y)│
|
……..
|
definisi 3.2
|
|
4)
|
PQ = ïy – xï
|
……..
|
sifat nilai mutlak
|
|
|
PQ = ïx – yï
|
|
|
|
5)
|
PQ = │ g(P)
– g(Q) │
|
……..
|
definisi 3.2
|
|
6)
|
g adalah sistem koordinat
|
……..
|
definisi 3.2
|
|
P
|
|
Q
|
|
g (P) = x
|
|
f
(P)
= -x
|
|
g (Q) = y
|
|
f (Q) = -y
|
|
l
|
|
Gambar 3.3.
|
Teorema 3.2.
Misalkan
f sistem koordinat untuk garis l, a
sebuah bilangan nyata, dan untuk P pada 1, misalkan pula g(P) = f(P) + a, maka g:
l ↔
adalah sistem kordinat
untuk 1.
|
P
|
|
Q
|
|
f (P) = x
|
|
g
(P)
= x + a
|
|
f (Q) = y
|
|
g (Q) = y + a
|
|
l
|
|
Gambar 3.4.
|
(Bukti diangkat sebagai bahan diskusi)
Teorema 3.3. (Teorema
penempatan mistar).
Misalkan l suatu garis dan P, Q dua titik pada l maka l mempunyai sistem koordinat dengan P = 0 dan koordinat Q
adalah positif
Bukti:
Diberikan f
sebagai sistem koordinat untuk l dan a
= f(P). Untuk setiap titik T
pada l, ambil g(T) = f(T) - a. Maka g
sistem kordinat untuk l dan g(P)
= 0. Jika g(Q) > 0 maka g adalah sistem yang diteoremakan. Jika g(Q)
< 0 maka ada h(T) = -g(T) untuk setiap T anggota l maka h memenuhi syarat
yang diteoremakan.
(Sebagai bahan diskusi: Tuliskan bukti ini dengan rangkaian pernyataan
yang disertai dengan alasannya)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar