HEMBUSAN
BY ; MARIO LAOH
Hari itu, saat gue sedang menikmati manisnya mencukur bulu ketek sore-sore, tiba-tiba, beberapa saraf otak gue koslet,. hal itu mengakibatkan rangsangan tak terduga mengalir ke tangan kanan gue yang sedang memegang cukuran, dan hasilnya ; (ketiak kiri gue berdarah). Sobekan itu membuat gue harus memakai singlet selama tiga hari.
Tapi dari kejadian itu gue belajar dua hal, 1) jangan menghayal saat mencukur bulu ketek 2) untuk keamanan, gunakanlah cukuran berlogo SNI.
Gue Alan, anak paling steril di keluarga ini, setelah insiden itu, ketek kiri gue ngambek dan ketek kanan gue galau, hubungan kedua ketek gue tak lagi seperti dulu. Seiring waktu berlalu, gue berusaha mengembalikan ketek gue yang dulu. Tapi cukup sulit buat gue, karna ini menyangkut psikologi ketek. gue butuh dokter atau psikiater yang paham tentang perasaan ketek dan ahli dibidang perketekan.
Kita lupakan dulu masalah ketek, sekarang gue mau cerita tentang pengelaman terburuk yang gue alami selain ketek.
Tiga hari setelah insiden ketek berdarah itu, gue datang ke kampus dengan wajah berseri-seri seolah tidak terjadi apa-apa. Tapi saat gue berada di dalam kelas, seperti biasa, perut gue mules. Gue nggak tau siapa yang mengutuk gue, atau siapa yang meracuni sarapa gue, tapi yang pasti, setiap kali dosen botak itu masuk, hormon kentut di perut gue selalu tak terkendali.
Seandainya gue duduk paling belakang, gue bisa kentut dengan bebas. Tapi, berhubung gue mahasiswa teladan dan gebetan gue (Saly) juga duduk di depan, otomatis gue juga harus duduk didepan dan gue harus menahan diri untuk kentut.
Tapi, Semakin lama, hasrat ingin kentut gue semakin menjadi-jadi, Detik-detik menjelang kentut terasa sangat menegangkan, perasaan gue begitu gelisa dan jantung gue berdetak kencang. untuk jaga-jaga, gue sudah menulis wasiat dan pesan-pesan terakhir gue di bagian belakang buku catatan gue. Sambil menahan rasa kentut, tanpa sadar gue meneteskan air mata. Melihat tampang aneh gue, Saly yang duduk di sebalah kanan gue bertanya, “kenapa lo?”. Tapi gue hanya diam dan Memendam rasa kentut itu seorang diri.
Saat itu tercetuslah dalam benak gue, sebuah teori tentang langkah-langkah menghembuskan kentut tanpa diketahui siapapun.
Teori kentut Alan :
Pertama, kita harus mempunyai motivasi, jangan menyerah dengan keadaan
Kedua, fokuskan pikiran kita pada otot pantat kiri dan pantat kanan, karna merekalah yang menahan dan mengontrol jumlah angin yang akan kita keluarkan.
Ketiga, hembuskan dengan penuh perasaan dan bertahap.
Gue pun mempraktekan teori tersebut.
Hembusan pertama ini, gue khususkan untuk teman gue yang tepat berada dibelakang tempat duduk gue, (Ayu) karna kebetulan hari ini dia ulan tahun, jadi, anggaplah ini hadiah.
Buuffftt,... (gue hembuskan kentut tahap pertama dengan penuh perasaan)
Dalam hati gue ; selamat ulan tahun Ayu
Hembusan pertama berhasil, Ayu tidak mendengar, mencium dan meresapi aroma kentut gue. Tak ada seorang pun yang tau, perasaan gue sedikit lega. Keberhasilan ini memotivasi gue untuk maju ke tahap berikutnya.
Saatnya untuk hembusan kedua, agar tidak mencurigakan, untuk tahap ini gue merubah arah dan sasaran gue. Kali ini, posisi duduk pantat gue mengarah kesebelah kiri, tepat kearah Doni yang begitu serius menyimak penjelasan dosen.
Sebenarnya gue nggak tega, tapi sebagai tukang kentut profesional, mau tidak mau gue harus melakukan ini.
Buuffftt,.. (proses hembusan kentut part kedua)
Sekali lagi gue berhasil, tak ada yang menyadari hebusan kedua. Meskipun udara di sekitarnya sudah tercemar, Doni terlihat biasa saja. Tapi wajah lugu dan kalem Doni membuat gue merasa bersalah.
Dalam hati gue ; maafin gue yah don
Nah, sekarang tinggal yang terakhir, biasanya ketut terakhir ini lebih mudah dari ketut sebelumnya, karna tinggal sedikit, tapi dalam beberapa kasus, ketut terakhir itu tidak keluar, bahkan hilang begitu saja dalam perut gue.
Untuk menghindari hal itu, gue segera melakukan peluncuran. Tak lama setelah kentut kedua, dengan penuh semangat, gue hembusskan kentut ketiga. Tiga, dua, satu...
Bbrruutt,...
Tak hanya angin yang keluar,.. ada benda lain yang berbau mistis keluar bersama hembusan itu, dan semua orang di dalam kelas mendengar, melihat dan mencium benda itu. akhirnya gue sadar, ternyata gue boker dicelana.
Saat itu juga kelas menjadi kacau, beberapa orang pingsan, Saly muntah-muntah, dan masa muda gue hancur.
Sejak kejadian itu, tempat duduk gue dibakar, dan mereka menjadikan tanggal terjadinya insiden itu sebagai hari libur...
20 mei (tragedi kentut Alan)
Tamat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar